Predikat Kota Teraman se-ASEAN Jangan Cuma di Atas Kertas, Nyook Jaga Jakarta

By Indonesia Maritime News 10 Apr 2026, 13:04:47 WIB Editorial
Predikat Kota Teraman se-ASEAN Jangan Cuma di Atas Kertas, Nyook Jaga Jakarta

Keterangan Gambar : Kawasan Monas yang menjadi ikon Kota Jakarta dan magnet bagi pariwisata yang harus dijamin keamanannya. Foto: property of indonesiamaritimenews.com


KOTA Jakarta meraih predikat nomor dua sebagai kota teraman di Asia Tenggara atau ASEAN. Posisi ini berada satu tingkat di bawah Singapura. Pencapaian ini diraih berdasarkan laporan Global Residence Index edisi 16 Januari 2026. Prestasi ini menjadi kado istimewa menuju 5 abad Kota Jakarta.

Adapun urutan skor yang diraih oleh 10 kota teraman di ASEAN yaitu: Singapura (Skor 0,90); Jakarta (Skor 0,72); Bangkok (Skor 0,65); Vientiane (Skor 0,61); Hanoi (Skor 0,60); Kuala Lumpur (Skor 0,57); Phuket (Skor 0,57); Ho Chi Minh City (Skor 0,56); Phnom Penh (Skor 0,55); Manila (Skor 0,41).

Pencapaian ini disambut bangga stakeholder serta rakyat ibukota. Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung bahkan mengaku terkejut dan sangat surprise. Karena capaian ini adalah sebuah lompatan yang luar biasa. "Itu saya sebenarnya juga surprise. Jakarta yang selama ini selalu di bawah Bangkok, Manila dan Kuala Lumpur, sekarang Jakarta posisi kedua, setelah Singapura,” kata Pramono. 

Baca Lainnya :

Penobatan Jakarta sebagai kota teraman kedua se-ASEAN memang sebuah kejutan. Pasalnya, trend kejahatan tingkat nasional, Jakarta masih berada di urutan teratas. Berdasarkan data peta kasus kejahatan yang dilansir Pusat Studi Kejahatan Nasional (Pusiknas) Polri, sejak Januari-September 2025 angka kejahatan mencapai 306.641 kasus di seluruh wilayah Indonesia. Dari jumlah tersebut, Polda Metro Jaya menempati posisi puncak dengan 60.312 laporan kejadian. Urutan kedua diduduki Polda Sumatra Utara, dan disusul Polda Jawa Timur.

Begitu pula data di Polda Metro Jaya. Sepanjang Januari-Desember 2025 Polda Metro Jaya menerima 74.013 laporan kejadian, atau 16,7 persen dari 329.120 kasus secara nasional. Artinya, Jakarta secara nasional masih 'juara' pada kasus kejahatan. 

Meski secara nasional Jakarta mendominasi kasus kejahatan, faktanya hasil survey Global Residence Index (GRI) menunjukkan, Jakarta masuk 10 besar kota teraman di ASEAN. Bahkan di posisi nomor dua. Adapun indikator penilaiannya adalah:

1. Numbeo Index (persepsi keamanan publik) atau ancaman kejahatan seperti pencurian disertai kekerasan

2. Homicide rate (city & country): Tingkat pembunuhan per kapita.

3. Global Peace Index: Tingkat kedamaian nasional dan keamanan

4. Security Risk: Risiko keamanan umum, misalnya ancaman terorisme, stabilitas sosial, atau kriminalitas berat.

5. Political Risk: Stabilitas politik 

6. Natural Disaster Risk: Potensi risiko bencana alam

7. Road Traffic Death Rate: Tingkat kematian akibat kecelakaan lalu lintas (keselamatan transportasi).

8. Natural Disasters Death Rate: Jumlah (aktual) kematian akibat bencana alam.

9. Major Conflict Death Rate: Tingkat kematian akibat konflik besar di wilayah tersebut.

Indikator nomor satu dari survey GRI menunjukkan, keamanan dari ancaman kejahatan kekerasan masih menjadi variabel utama. Sebagai kota metropolitan, geliat ekonomi dan aktivitas publik yang tinggi di Jakarta selalu diikuti oleh ancaman kejahatan. Ibarat dua sisi mata uang yang tak terpisahkan, dinamika masyarakat pasti diikuti oleh ancaman kejahatan. Bahkan belakangan, kasus begal kembali marak di Ibukota. Teror aksi premanisme juga masih kerap terjadi. Ini menjadi alarm bagi aparat keamanan bahwa kejahatan konvesional masih jadi ancaman serius.

Survey GRI juga menyebutkan, stabilitas sosial dan stabilitas politik berpengaruh terhadap rasa aman. Dinamika politik kerap membawa dampak gangguan kamtibmas. Sebagai contoh, kita pernah terluka dan tercoreng di mata dunia akibat rusuh massa disertai pengrusakan fasilitas publik seperti halte Transjakarta dan sejumlah kendaraan pada Agustus 2025 lalu. Tapi Jakarta cepat bangkit, semua elemen bergandeng tangan bahu membahu. Lewat slogan 'Jaga Jakarta' yang digaungkan oleh Gubernur Pramono Anung, dalam waktu cepat kondisi kamtibmas pulih kembali.

Menciptakan kondisi aman di Ibukota diperlukan berbagai langkah dengan berkolaborasi lintas sektoral, dan jangan lupa menggandeng masyarakat sebagai ujung tombak. Perlu digaris bawahi, aman yang dirasakan masyarakat bukan hanya fisik semata, melainkan ada berbagai aspek. Kualitas layanan publik, sistem keamanan di area publik, kelancaran dalam kegiatan massa, keamanan transportasi umum, aman secara psikologis dari rasa ketakutan, adalah beberapa aspek yang berpengaruh signifikan pada rasa aman secara keseluruhan. 

Selain itu sistem keamanan berbasis teknologi seperti pemasangan CCTV di area publik serta di permukiman, sistem transportasi umum terintegrasi, pelaporan cepat dan respon cepat call center, aplikasi teknologi berbasis digital yang bisa menghubungkan warga ke aparat keamanan, juga menjadi sebuah keniscayaan. 

Hasil survey GRI adalah angka-angka di atas kertas yang mampu membangun persepsi publik. Tapi apa yang dirasakan sehari-hari oleh warga Jakarta, adalah lebih penting ketimbang angka di atas kertas. Karenanya, para pemangku kepentingan dan juga masyarakat harus bisa membuktikan bahwa Jakarta memang betul aman dan nyaman. Bukan hanya di atas kertas.

Dalam memelihara keamanan Jakarta, diperlukan kolaborasi kuat antara para pemangku kepentingan dan elemen masyarakat. Masyarakat hingga tingkat RT harus dilibatkan secara aktif dengan menumbuhkan awareness bahwa keamanan adalah tanggung jawab bersama. Membangun kesadaran kolektif adalah kunci keberhasilan menekan angka kejahatan dan mencegah vandalisme. 

Polisi tidak bisa bekerja sendiri. Jumlah personel Polda Metro Jaya yang berkisar 22.000 personel mustahil bisa mengayomi sekitar 22.000 jiwa penduduk Jakarta. Hidupkan kembali Polmas (Pemolisian Masyarakat, aktifkan lagi Siskampling dan gencarkan patroli bersama untuk merawat keamanan Jakarta. 

Penobatan Jakarta sebagai kota teraman se-ASEAN oleh lembaga internasional adalah sebuah pengakuan yang harus disyukuri. Jakarta adalah etalase Indonesia. Keamanan Jakarta menjadi tokok ukur amannya negeri ini. Itu sebabnya semua elemen baik pemerintah daerah maupun masyarakat harus sama-sama bertanggung jawab. Kota yang aman akan menumbuhkan persepsi positif dunia, menghidupkan sektor pariwisata, serta menciptakan iklim investasi global yang pada akhirnya akan membawa dampak ekonomi bagi warganya. Nyook, Jaga Jakarta. (Red)





Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook