- Kasal Apresiasi Prajurit Marinir, Raih Juara I Lomba Video Pendek dan Konten Kreatif
- Nataru 2025/2026 Arus Kapal dan Penumpang Meningkat, Pelindo Regional 4 Catat Kinerja Positif
- KKP Indentifikasi 30 Ribu Ha Tambak di Aceh Hancur Dihantam Banjir Bandang
- Throughput IPC Terminal Petikemas Tembus 3,6 Juta TEUs, Tumbuh 13,2%
- Buka Tahun 2026, PELNI Lepas Pelayaran Perdana Tol Laut KM Nusantara 3
- Arus Petikemas Naik 6% Teluk Lamong Bukukan 2,8 Juta TEUs Tahun 2025
- Pemprov Banten dan Panitia Matangkan Persiapan HPN 2026
- Dorong Restorasi Pesisir, TPS Bawa Harapan Baru bagi Petani Mangrove
- Jelang Retret Wartawan, PWI Pusat dan Kemenhan Gelar Rapat Khusus
- Solidaritas Sosial Akabri 1989 untuk Korban Bencana Sumatera, Salurkan Bantuan Besar-besaran
KKP Kembangkan Sistem Pelacakan Hasil Perikanan Berstandar Global

Keterangan Gambar : Dirjen PDSPKP Tornanda Syaifullah resmi kick-off pengembangan Stelina di Bali (22/6/2027). Sistem ini dikembangkan KKP bersama GDST untuk memastikan produk perikanan Indonesia transparan, legal, dan berkelanjutan di pasar global. Foto: KKP
Indonesiamaritimenews.com (IMN), BALI: Kementerian Kelautan dan Perikanan bersama Global Dialogue on Seafood Traceability (GDST) berkolaborasi untuk meningkatkan jangkauan Sistem Ketertelusuran dan Logistik Ikan Nasional (Stelina) menjadi berstandar global.
Sistem ini dapat memastikan produk perikanan yang diperdagangkan dari Indonesia berasal dari praktik yang ramah lingkungan, bukan hasil illegal fishing.
Baca Lainnya :
- Masyarakat Berperan Aktif Berantas Illegal Fishing di Natuna Utara0
- Lulusan Satuan Pendidikan Kelautan dan Perikanan Jangan Takut Nganggur, Ini Strategi KKP0
- KKP Percepat Perizinan Industri Hulu Migas, Ini Tujuannya0
- KKP Tangkap 53 Kapal Ikan Ilegal Fishing, 44 Rumpon Diamankan, Rp1 Triliun Diselamatkan0
- KKP Mengendus 1.950 Telur Penyu Tak Bertuan Gagal Diselundupkan0
Dirjen Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan (PDSPKP), Tornanda Syaifullah mengatakan, Stelina adalah solusi kolaboratif berbasis interoperabilitas antar sistem dengan output teknologi QR code akan memperkuat sistem integrasi hulu hilir.
"Ini memberikan gambaran lengkap tentang ketertelusuran produk perikanan kepada konsumen,” ungkap Tornanda Syaifullah pada acara Kick-Off Event Stelina : Advancing Traceability in Tuna and Shrimp Industries di Nusa Dua, Bali, Minggu (22/6/2025).
Melalui sistem tersebut, setiap tahap perjalanan ikan dari hasil budi daya atau tangkap hingga ke tangan konsumen dapat direkam data dan informasinya secara transparan. Pengembangan ini diharapkan dapat meningkatkan daya saing dan kepercayaan buyers terhadap produk perikanan dari Indonesia. Sistem ini juga menepis isu bahwa produk perikanan Indonesia hasil illegal fishing, maupun diproduksi dengan cara yang tidak ramah lingkungan.
Tuntutan Pasar Global
Berdasarkan data, nilai ekspor udang Indonesia tahun 2024 mencapai USD 1,68 Miliar atau 28,2% dari total nilai ekspor perikanan, dengan negara tujuan Amerika Serikat, Jepang, Tiongkok, UE dan ASEAN. Sedangkan nilai ekspor Tuna-Cakalang-Tongkol mencapai USD 1,03 Miliar atau 17,4% dengan negara tujuan ASEAN, Amerika Serikat, UE, Jepang, dan Timur Tengah.
“Salah satu tren tuntutan pasar global saat ini adalah persyaratan ketertelusuran yang transparan dan berkelanjutan. Konsumen semakin menuntut informasi asal-usul ikan termasuk cara penangkapan dan budi daya yang dapat menjaga kelestarian ekosistemnya,” pungkas Dirjen Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan (PDSPKP), Tornanda Syaifullah.
Executive Director of Global Dialogue on Seafood Traceability, Huw Thomas mengungkapkan, teintegrasinya Stelina dengan sistem ketertelusuran yang dimiliki GDST, menunjukkan komitmen Indonesia melindungi sumber daya perikanan berkelanjutan dan memastikan keamanannya untuk dikonsumsi masyarakat global.
Sementara itu Ketua Asosiasi Penangkapan Pole & Line dan Handline Indonesia (AP2HI), Janti Juari juga menyebut hadirnya Stelina berstandar global menjadi angin segar meningkatkan nilai perdagangan, khususnya udang dan tuna Indonesia di pasar global.
Sebelumnya, Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono menegaskan komitmen menjalankan program ekonomi biru untuk menjaga keberlanjutan ekologi guna mendukung pertumbuhan ekonomi nasional. Salah satu yang dilakukan KKP yakni untuk memastikan kegiatan penangkapan dan budi daya perikanan di Indonesia dilakukan dengan cara ramah lingkungan. (Arry/Oryza)











