Mursyid Thariqah an-Naqsyabandiyyah K.H. Muhammad Rohmat Noor Telah Pergi
Bimbingan dan Keteladanan Kiyai Tawadhu itu Dikenang...

By Indonesia Maritime News 17 Jan 2026, 15:10:31 WIB Opini
Mursyid Thariqah an-Naqsyabandiyyah K.H. Muhammad Rohmat Noor Telah Pergi

Keterangan Gambar : K.H. Muhammad Rohmat Noor Syam, pengasuh Pesantren Nurul Huda Kajen, Margoyoso, Pati, Jawa Tengah.Foto: Pesantren Nurul Huda Kajen


Oleh: Rifqi Amrulah Fatah

Indonesiamaritimenews.com (IMN): Innalillahi wa inna ilaihi raji’un. Dunia pesantren dan thariqah kembali berduka atas wafatnya salah satu ulama kharismatik, K.H. Muhammad Rohmat Noor Syam, pengasuh Pesantren Nurul Huda Kajen, Margoyoso, Pati, Jawa Tengah.

Kiyai wafat pada Rabu, 7 Januari 2026 (18 Rajab 1447 H). Kepergiannya  meninggalkan duka mendalam bagi keluarga, santri, jamaah thariqah,serta masyarakat luas yang selama ini merasakan bimbingan dan keteladanannya.

Baca Lainnya :

K.H. Muhammad Rohmat Noor Syam lahir di Kajen, Pati, pada 14 Juni 1949, sebuah wilayah yang dikenal sebagai pusat tradisi keilmuan pesantren di Jawa Tengah. Sejak kecil, tumbuh dalam lingkungan religius yang kuat, di tengah masyarakat yang menjunjung tinggi nilai-nilai Islam, adab, dan keilmuan. Atmosfer tersebut membentuk karakter beliau sebagai pribadi yang tekun,  .tawadhu, dan mencintai ilmu.

Ketertarikan Kyai Rohmat terhadap ilmu agama telah tampak sejak usia muda. Di lingkungan Kajen yang dipenuhi pesantren, beliau menempuh pendidikan keagamaan dengan penuh kesungguhan. Berbagai disiplin ilmu keislaman beliau pelajari, mulai dari fikih, tafsir, hadis, hingga tasawuf. Dalam proses menuntut ilmu tersebut, beliau dikenal sebagai santri yang istiqamah dan bersungguh-sungguh, tidak hanya mengejar penguasaan teks, tetapi juga berusaha menghayati nilai-nilai akhlak yang terkandung di dalamnya.

Perjalanan intelektual dan spiritual Kyai Rohmat tidak dapat dilepaskan dari sosok guru-gurunya. Salah satu guru utama beliau adalah K.H. Abdullah Zain Salam, seorang ulama alim dan mursyid yang dikenal luas di kalangan pesantren. K.H. Abdullah Zain Salam sendiri merupakan murid dari ulama besar Kudus, K.H. Arwani Amin Said, tokoh sentral dalam tradisi keilmuan Al-Qur’an dan tasawuf di Nusantara. Sanad keilmuan dan spiritual tersebut menjadi mata rantai penting yang membentuk kedalaman ilmu sekaligus kematangan ruhani Kyai Rohmat.

Selain dikenal sebagai pengasuh pesantren, K.H. Muhammad Rohmat Noor Syam juga merupakan mursyid Thariqah an-Naqsyabandiyyah. Dalam peran ini, beliau membimbing para murid dan jamaah dengan pendekatan yang lembut, menenangkan, serta menjunjung tinggi adab. Beliau selalu menegaskan bahwa thariqah tidak boleh dipisahkan dari syariat, dan tasawuf sejati harus melahirkan akhlak mulia serta tanggung jawab sosial.

Sanad keilmuan dan spiritual K.H. Muhammad Rohmat Noor Syam dalam Thariqah an-Naqsyabandiyyah tersambung melalui mata rantai para ulama dan wali yang memiliki otoritas keilmuan dan keteladanan ruhani. Silsilah tersebut bermula dari Nabi Muhammad ﷺ, kemudian diteruskan kepada Sayyidina Abu Bakar Ash-Shiddiq, Sayyidina Salman al-Farisi, Syekh Qasim bin Muhammad, Syekh Ja‘far ash-Shadiq, dan Syekh Abu Yazid Thaifur al-Bisthami. Rantai ini berlanjut kepada Syekh Abul Hasan Ali al-Kharqani, Syekh Abu Ali Fadhal, Syekh Yusuf al-Hamadani, dan Syekh Abdul Khaliq al-Ghajduwani, kemudian kepada Syekh Arif ar-Riwikari, Syekh Mahmud al-Anjir Faghnawi, Syekh Ali ar-Rumyatini, dan Syekh Muhammad Baba as-Samasi. Dari beliau, sanad diteruskan kepada Syekh Amir Kulal, lalu kepada pendiri tarekat ini, Syekh Muhammad Bahauddin an-Naqsyabandi.

Silsilah tersebut kemudian berlanjut kepada Syekh Muhammad Alauddin al-Aththari, Syekh Ya‘qub al-Jarkhi, Syekh Ubaidillah al-Ahrari, Syekh Muhammad az-Zahid, Syekh Darwis Muhammad, Syekh Muhammad al-Khawajiki, Syekh Muhammad al-Baqi Billah, dan Syekh Ahmad al-Faruqi.

Sanad diteruskan kepada Syekh Muhammad Ma‘shum, Syekh Saifuddin, Syekh Nur Muhammad al-Badwani, dan Syekh Habibullah, kemudian kepada Syekh Abdullah ad-Dahlawi, Syekh Khalid al-Baghdadi, Syekh Sulaiman al-Quraimi, Syekh Ismail al-Barusi, Syekh Sulaiman az-Zuhdi, dan Syekh Muhammad al-Hadi.

Di Nusantara, mata rantai ini diteruskan kepada Syekh Manshur Solo, kemudian kepada Syekh Arwani Amin al-Hirmi Kudus, lalu kepada Syekh Abdullah Zain Salam Kajen, hingga akhirnya sampai kepada Syekh Muhammad Rohmat Noor Syam Kajen.

Melalui sanad inilah K.H. Muhammad Rohmat Noor Syam menerima ijazah dan amanah sebagai mursyid Thariqah an-Naqsyabandiyyah. Sanad tersebut tidak hanya menjadi legitimasi spiritual, tetapi juga menjadi landasan moral bagi beliau dalam membimbing jamaah dengan kehati-hatian, ketawadhuan, dan keistiqamahan dalam syariat.

Bagi Kyai Rohmat, dzikir dan riyadhah bukanlah pelarian dari kehidupan dunia, melainkan sarana untuk membentuk kepribadian yang jujur, rendah hati, dan bermanfaat bagi sesama.

Dalam keseharian sebagai pengasuh Pesantren Nurul Huda Kajen, Kyai Rohmat dikenal sebagai sosok yang sederhana dan dekat dengan santri. Beliau tidak hanya mengajarkan kitab-kitab klasik, tetapi juga menanamkan nilai kejujuran, kedisiplinan, dan khidmah. Pesan-pesan beliau sering disampaikan dengan bahasa yang sederhana, namun sarat makna dan mudah diamalkan.

Di bawah asuhan beliau, Pesantren Nurul Huda tumbuh sebagai pesantren yang menjaga tradisi Ahlussunnah wal Jamaah an-Nahdliyah, sekaligus tetap terbuka terhadap dinamika zaman.

Kyai Rohmat meyakini bahwa tujuan utama pendidikan pesantren bukan semata mencetak santri yang pandai secara intelektual, tetapi melahirkan pribadi yang berakhlak mulia dan siap mengabdi kepada umat, bangsa, dan negara.

Salah satu hal yang paling dikenang dari sosok K.H. Muhammad Rohmat Noor Syam adalah kesederhanaan hidupnya. Meski memiliki kedudukan sebagai ulama dan mursyid, beliau jauh dari sikap berlebihan. Tutur katanya halus, sikapnya menenangkan, dan kehadirannya selalu membawa kesejukan. Banyak santri dan jamaah yang mengenang bagaimana beliau lebih memilih memberi contoh melalui perbuatan daripada sekadar nasihat lisan.

Wafatnya K.H. Muhammad Rohmat Noor Syam pada 7 Januari 2026 menjadi kehilangan besar bagi dunia pesantren dan thariqah. Kabar duka tersebut segera menyebar, dan ucapan belasungkawa mengalir dari berbagai kalangan.

Jenazah beliau dimakamkan dengan penuh khidmat, diiringi doa dan isak haru para pelayat yang mengantarkan kepergian beliau ke peristirahatan terakhir.

Meski telah berpulang, warisan K.H. Muhammad Rohmat Noor Syam akan terus hidup melalui ilmu yang beliau ajarkan, pesantren yang beliau asuh, serta para santri dan jamaah yang beliau bimbing. Keteladanan beliau dalam menjaga tradisi keilmuan, menghidupkan thariqah, dan membumikan akhlak mulia menjadi pelajaran berharga bagi generasi setelahnya.

Semoga Allah SWT menerima seluruh amal ibadah beliau, mengampuni segala khilafnya, dan menempatkannya di tempat terbaik di sisi-Nya. Al-Fatihah.(****)

Tentang Penulis

Rifqi Amrulah Fatah adalah murid K.H. Muhammad Rohmat Noor. Ia menimba ilmu di pesantren Nurul Huda Kajen selama kurang lebih 7 tahun (2012-2019). Santri kelahiran tahun 2000 ini   akhirnya melanjutkan studi S1 di Universitas Sebelas Maret jurusan Ilmu Sejarah dan S1 Ilmu Hukum di Universitas Terbuka.




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook