- Solidaritas Sosial Akabri 1989 untuk Korban Bencana Sumatera, Salurkan Bantuan Besar-besaran
- PELNI dan BPH Migas Pantau Pasokan BBM di Bitung, Nataru 2025/2026 Kebutuhan Meningkat
- KKP: Pembangunan 65 Kampung Nelayan Merah Putih Serap 17.550 Tenaga Kerja
- Percepat Penanganan Bencana di Sumatera, KRI Makassar-590 Angkut Alat Berat dari Kalimantan
- Bantuan Beras 1,2 Ton Diangkut Pesawat Udara TNI AL, Disalurkan ke Korban Bencana di Gayo Lues Aceh
- Bukan Operasi Penangkapan Biasa: Strategi Perang AS Berbasis Pusat Gravitasi
- Layanan Mutu KKP Sudah Dilengkapi ISO, Ekspor Komoditas Perikanan 2026 Optimistis Tumbuh Positif
- Jelajah Wisata Bangka Selatan, PWI Ajak Telusuri Jejak Sejarah dan Pesona Keindahan Bahari
- Nataru 2025/2026, ASDP Layani 3,4 Juta Penumpang dan 850 Ribu Kendaraan di 15 Lintasan
- Banjir Bandang di Kepulauan Sitaro Sulut, 9 Orang Meninggal, 5 Rumah Hilang
Indonesia adalah Wilayah Pertahanan Terakhir Umat Islam di Seluruh Dunia
Sebuah Geopolitik Atas Posisi Geografis Dan Tekanan Kekuatan Anti-TAUHID

Keterangan Gambar : Dok.
Oleh : Benz Jono Hartono
Indonesiamaritimenews.com (IMN): INDONESIA bukan hanya sekadar negara kepulauan terbesar di dunia, ia adalah bentangan geografi yang unik, sebuah sabuk raksasa yang sejak lama menjadi pagar alamiah bagi peradaban, agama, dan identitas bangsa. Dalam perspektif geopolitik Islam, Indonesia kerap dibaca sebagai “benteng timur” terakhir, wilayah tempat umat Islam menjaga sisa-sisa kedaulatan spiritualnya ketika arus global bergerak semakin agresif menekan nilai-nilai tauhid.
Di antara dinamika kekuatan besar dunia, posisi Indonesia yang terbentang dari Sabang hingga Merauke menjadi alasan mengapa umat Islam global melihat Nusantara sebagai buffer zone terakhir, ruang pertahanan ideologis, demografis, dan strategis dari derasnya gelombang kekuatan anti-tauhid yang dari segala sisi terus menguji.
Baca Lainnya :
- Irjen TNI - Letjen Saleh Mustafa0
- Optimalkan Eksploitasi Tuna Sirip Biru di Laut Lepas:Strategi Indonesia Tingkatkan Daya Saing Global0
- Diikuti 99 Lembaga Negara, TNI AL Raih Juara I Cyberdrill0
- Pemilu 2024, PWI dan Hari Pers Nasional0
- Catatan Akhir Tahun 2023: Angkat Topi, Upaya Pelindo, Standarisasi Pelayanan & Tekan Port Stay0
Di Timur Gerbang Terluar Peradaban Islam berhadapan dengan Hegemoni Baru
Di ujung timur Indonesia, bentangan Laut Pasifik menjadi arena persaingan kekuatan global yang semakin memperlihatkan wataknya, membangun pengaruh ideologi liberal sekuler dan ekspansi geopolitik yang dalam beberapa dekade terakhir mulai menyasar kawasan berpenduduk Muslim.
Indonesia Timur, dari Papua hingga Maluku, menjadi wilayah yang sensitif secara geopolitik. Campur tangan asing, gerakan separatis, hingga agenda infiltrasi budaya merupakan bagian dari operasi hibrida yang tak dapat dipisahkan dari kepentingan negara-negara besar. Dalam konteks pertahanan Islam, wilayah ini adalah “tembok terakhir” sebelum gelombang intervensi ideologis menembus jantung Nusantara.
Di Barat Panggung Lama Perlawanan Islam dan Lintasan Perdagangan Dunia
Di barat, Indonesia berhadapan langsung dengan Samudra Hindia dan kawasan Asia Selatan wilayah yang dalam sejarahnya merupakan rute penyebaran Islam ke Nusantara. Namun kini, jalur itu juga menjadi arena konflik, dominasi ekonomi, hingga rivalitas negara-negara adidaya yang membawa pengaruh nilai anti-tauhid, baik dalam bentuk kapitalisme ekstrem, materialisme, maupun proyek-proyek geopolitik terselubung.
Pantai Barat Sumatera menjadi gerbang terbuka terhadap kekuatan global itu. Jika wilayah ini gagal dijaga, Indonesia dapat dengan mudah terseret dalam pusaran kepentingan asing yang membelokkan arah pembangunan bangsa dari fondasi nilai Islam yang telah hidup berabad-abad.
Di Utara Benteng yang Berhadapan Langsung dengan Penjaga Ideologi Sekuler Asia Pasifik
Wilayah utara Indonesia Aceh, Kalimantan Utara, Sulawesi Utara, sampai Natuna, langsung berhadapan dengan negara-negara yang memiliki kekuatan ideologis, militer, dan ekonomi yang besar. Banyak dari mereka berorientasi pada sekularisme atau bahkan anti-agama secara sistematis.
Di kawasan inilah tekanan paling nyata dirasakan: pergeseran klaim wilayah, patroli militer besar-besaran, hingga penetrasi ekonomi yang memaksa. Lebih dari sekadar ancaman teritorial, arus penetrasi budaya dan ideologi bergerak dari kawasan utara, menguji daya tahan identitas Islam Indonesia. Di titik inilah pentingnya memahami bahwa pertahanan tidak hanya berbicara soal senjata, tetapi juga moral, akidah, dan budaya.
Di Selatan Zona Lunak yang Menghadap Ke Arah Tanpa Pertahanan Alamiah
Sisi selatan Indonesia menghadap langsung ke Australia dan Samudra Hindia bagian selatan wilayah yang secara ideologis dan geopolitik jelas bukan bagian dari dunia Islam. Di sinilah Indonesia menyadari bahwa ia berada dalam tekanan dari kekuatan-kekuatan besar yang memandang Islam sebagai ancaman, bukan peradaban.
Wilayah selatan relatif minim hambatan alamiah dan rentan terhadap pengaruh langsung, baik melalui ekonomi, pendidikan, maupun arus diplomatik. Infiltrasi nilai-nilai yang menjauhkan masyarakat Muslim dari akarnya seringkali datang dari arah ini.
Mengapa Indonesia Disebut “Pertahanan Terakhir Umat Islam”
Karena tiga alasan besar:
1. Demografi Muslim Terbesar di Dunia
Indonesia adalah rumah bagi lebih dari 230 juta Muslim. Jika benteng ini runtuh secara ideologis, budaya, atau politik, maka stabilitas dunia Islam secara keseluruhan akan terguncang.
2. Letak Geografis Strategis Mengurungnya oleh Kekuatan Non-Islam.
Dari empat penjuru mata angin, Indonesia benar-benar menghadap kekuatan besar yang didominasi ideologi non-tauhid, sekuler, liberal, ateistik, bahkan imperialis. Letak ini membuat Indonesia menjadi “tameng” antara dunia Muslim dan arus kekuatan asing.
3. Warisan Peradaban Islam Nusantara yang Tangguh
Indonesia memiliki sejarah panjang perlawanan terhadap kolonialisme, infiltrasi nilai asing, serta upaya pemisahan umat dari akarnya. Tradisi keislaman Indonesia bersifat adaptif, damai, tetapi kokoh menghadapi tekanan luar.
Generasi Hari Ini Menjaga Lini Terakhir Ini
Indonesia hanya akan menjadi benteng terakhir jika umatnya menyadari bahwa ancaman masa kini tidak selalu berupa invasi militer. Justru yang paling berbahaya adalah infiltrasi ideologi, pelemahan akidah, penghancuran moral generasi muda, serta upaya memisahkan umat Islam dari akar sejarahnya.
Benteng besar tidak runtuh karena serangan dari luar, tetapi karena retak dari dalam.
Indonesia akan tetap menjadi pertahanan terakhir dunia Islam jika:
-Umatnya memegang teguh tauhid sebagai fondasi.
-Pemimpinnya tidak tunduk pada kepentingan asing.
-Budaya dan pendidikan dijaga dari arus nilai yang merusak.
-Persatuan umat tidak digerogoti oleh konflik internal.
Penutup
Indonesia bukan hanya sebuah negara, ia adalah front terakhir sebuah peradaban. Di titik inilah umat Islam di seluruh dunia menaruh harapan agar negara ini tetap kokoh, menjadi titik terang di tengah gelombang global yang semakin menjauh dari nilai-nilai ketuhanan.
Jika dunia Islam ingin tetap eksis, maka Indonesia harus dijaga.
Jika tauhid ingin tetap hidup, maka Indonesia adalah bentengnya.
Dan jika peradaban ingin tetap tegak, maka umat Islam Indonesia harus sadar,
merekalah penjaga garda terakhir itu.(****)
Catatan Penulis:
-Praktisi Media Massa
-Vice Director Confederation ASEAN Journalist (CAJ) PWI Pusat
-Executive Director HIAWATHA Institute di Jakarta











