- RUU Pelindungan Ketenagakerjaan Disetujui Lanjut ke Pembicaraan Tingkat II
- Mengintip Dapur Pelabuhan! Talenta Muda Peserta MAGENTA Pelindo Tur Eksklusif di IPC TPK
- Insiden Kecelakaan KM Virgo Ttansport 8 Jangan Hanya ABK yang Bertanggung Jawab
- Pelindo Kenalkan ADHARA, Konektivitas Terpadu Ekosistem Maritim Satu Platform Digital
- Presiden Prabowo: TNI Lahir dari Rakyat, Berjuang Bersama Rakyat, Hadir di Tengah Bencana
- HUT ke-81 TNI di Cilangkap, Presiden Prabowo: Terima Kasih atas Kesetiaan dan Pengabdian Para Prajurit
- Buruan Daftar! Pelatihan Vokasi Nasional Batch 6 Dibuka hingga 14 Oktober
- Presiden Prabowo Angkat 26 Anggota Wantimpres, ada Rocky Gerung, Margarito hingga Babah Alun
- Hari ke-18 Pencarian Korban, Penyelam Sisir Badan KMP Virgo Transport 8
- Pelantikan Ketua PWI Jabar, Akhmad Munir dan KDM Ingatkan Independensi Pers
Dorong Restorasi Pesisir, TPS Bawa Harapan Baru bagi Petani Mangrove

Keterangan Gambar : Kelompok Petani Mangrove Kompak Mandiri Lestari senang me dapat dukungan daei Terminal Petikemas Surabaya. Foto: TPS
Indonesiamaritimenews.com (IMN), SURABAYA: Di balik upaya menjaga pesisir dari ancaman abrasi dan dampak perubahan iklim, tumbuh kisah tentang penghidupan yang bersemi bersama akar-akar mangrove.
Terminal Petikemas Surabaya (TPS) yang merupakan anak usaha Pelindo Terminal Petikemas melalui program keberlanjutan “Menanam Harapan Menjaga Keberlanjutan” tidak hanya memulihkan ekosistem pesisir, tetapi juga menghadirkan harapan baru bagi petani mangrove yang menggantungkan hidupnya pada alam.
Dalam keterangan resmi yang diterima indonesiamaritimenews.com disebutkan,
melalui kerja sama dengan Kelompok Petani Mangrove Kompak Mandiri Lestari, TPS mendukung pembibitan sebanyak 10.000 bibit mangrove jenis Rhizophora mucronata. Program ini menjadi sumber penghasilan tambahan bagi para petani, terutama di tengah ketidakpastian pendapatan akibat perubahan musim dan tekanan lingkungan pesisir.
Bagi para petani, pembibitan mangrove bukan sekadar aktivitas lingkungan, tetapi juga ruang untuk meningkatkan kesejahteraan keluarga. Setiap tahapan
mulai dari pengumpulan propagul, proses pembibitan, perawatan harian, hingga pemantauan pertumbuhan
memberikan nilai ekonomi sekaligus membuka lapangan kerja berbasis kearifan lokal.
Baca Lainnya :
- PELNI dan BPH Migas Pantau Pasokan BBM di Bitung, Nataru 2025/2026 Kebutuhan Meningkat0
- Diskon Tiket PELNI Nataru 2025/2026 Laris, Serapan Kuota Stimulus Capai 91 Persen0
- Utamakan Korban Bencana Sumatera, PELNI Bebaskan Biaya Angkut Rp1,2 M Pengiriman Barang Bantuan0
- Antusiame Masyarakat Tinggi, Kuota Diskon Tiket Kapal Pelni Tinggal 32 Persen0
- Tutup Tahun 2025 Ekspor Meningkat, IPC TPK Layani Adhoc Service Tambahan0
Merasakan Langsung
Salah satu anggota Kelompok Kompak Mandiri Lestari, Moch. Toha, merasakan langsung dampak program ini. Sebagai nelayan pesisir yang penghasilannya sangat bergantung pada cuaca, ia kerap menghadapi ketidakpastian ekonomi. Sejak terlibat dalam pembibitan mangrove, ia memperoleh pendapatan tambahan yang lebih pasti.
“Kalau melaut tidak selalu bisa setiap hari. Dengan pembibitan mangrove, kami tetap punya penghasilan. Hasilnya bisa membantu biaya sekolah anak dan kebutuhan sehari-hari. Kami merasa lebih tenang karena ada pekerjaan yang berkelanjutan,” tuturnya sambil merawat bibit mangrove di persemaian.
Ketua Kelompok Kompak Mandiri Lestari, Shodiq Machfudz, menambahkan bahwa program ini tidak hanya meningkatkan pendapatan, tetapi juga menumbuhkan rasa bangga di kalangan petani.
“Kami merasa dipercaya dan dilibatkan sebagai mitra. Mangrove yang kami rawat bukan hanya untuk lingkungan, tetapi juga menjadi bagian dari masa depan keluarga kami,” ujarnya.
TPS memastikan proses pembibitan dilakukan secara profesional dengan standar yang jelas, disertai pendampingan teknis yang meningkatkan keterampilan petani. Pendekatan ini tidak hanya menjamin kualitas bibit, tetapi juga memperkuat kapasitas dan kemandirian ekonomi masyarakat pesisir.
Sekretaris Perusahaan TPS, Erika A. Palupi, menegaskan bahwa keberhasilan program mangrove diukur tidak hanya dari jumlah bibit yang ditanam, tetapi juga dari perubahan nyata dalam kehidupan petani.
“Bagi TPS, keberlanjutan sejati adalah ketika lingkungan pulih dan masyarakatnya sejahtera. Kami ingin petani mangrove merasakan manfaat langsung dari program ini, memiliki pendapatan yang lebih baik, keterampilan yang meningkat, dan masa depan yang lebih pasti,” jelas Erika.
Selain berfungsi sebagai benteng alami terhadap abrasi dan penyerap karbon biru, mangrove juga menjadi sumber nilai ekonomi jangka panjang apabila dikelola secara berkelanjutan. Program pembibitan ini membuka peluang bagi petani untuk terlibat dalam rantai nilai restorasi pesisir, sekaligus memperkuat peran mereka sebagai penjaga ekosistem dan pelaku ekonomi hijau.
Ditargetkan siap tanam pada April 2026, bibit mangrove hasil pembibitan ini akan didistribusikan untuk mendukung rehabilitasi kawasan pesisir Surabaya serta wilayah lain yang membutuhkan. TPS juga membuka peluang kolaborasi dengan berbagai pihak, dengan menempatkan petani mangrove sebagai mitra utama dalam pelaksanaan program.
“Keberlanjutan bukan hanya tentang menanam pohon, tetapi tentang membangun kehidupan yang lebih baik. Melalui pembibitan mangrove ini, TPS ingin menumbuhkan ekosistem yang sehat sekaligus ekonomi masyarakat pesisir yang lebih tangguh dan bermartabat,” tutup Erika. (Arry/Mar)











