AHY Percepat Transformasi Bali Maritime Turism Hub Jadi Gerbang Wisata Bahari Internasional

By Indonesia Maritime News 22 Jul 2026, 04:23:42 WIB Maritim
AHY Percepat Transformasi Bali Maritime Turism Hub Jadi Gerbang Wisata Bahari Internasional

Keterangan Gambar : Menko Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) meninjau kawasan Bali Maritime Turism Hub (BMTH) di Pelabuhan Benoa, Denpasar, Bali, Selasa (21/7/2026). Foto: KemenkoInfrastruktur


Indonesiamaritimenews.com (IMN), BALI: Menko Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) megatakan, Bali Maritime Turism Hub (BMTH) merupakan salah satu proyek stratnas yang memperkuat sektor pariwisata sekaligus memberikan multiplier effect bagi perekonomian.

AHY mendorong percepatan deregulasi, penataan ruang, serta penataan aktivitas kepelabuhanan untuk mempercepat pengembangan BMTH di Pelabuhan Benoa sebagai gerbang wisata bahari internasional.

Menurut AHY, transformasi BMTH tidak cukup hanya mengandalkan pembangunan infrastruktur, tetapi juga memerlukan penyempurnaan regulasi, sinkronisasi tata ruang, serta penguatan koordinasi lintas kementerian dan lembaga agar mampu menarik investasi, meningkatkan kunjungan wisatawan berkualitas, dan memberikan manfaat ekonomi yang semakin luas bagi masyarakat.

Baca Lainnya :

Penegasan tersebut disampaikan Menko AHY saat meninjau kawasan BMTH di Pelabuhan Benoa, Denpasar, Bali, Selasa (21/7/2026). Ia menilai pengembangan BMTH merupakan proyek strategis yang akan memperkuat posisi Indonesia sebagai negara maritim sekaligus mendorong diversifikasi pariwisata nasional melalui pengembangan wisata bahari berkelas dunia.

"Di lokasi ini tengah dibangun kawasan, fasilitas, dan ekosistem yang akan mendukung berkembangnya wisata bahari Indonesia," ujarnya. AHY meninjau langsung Area Pengembangan I BMTH yang direncanakan menjadi Marina District.

Menurut AHY, Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar di dunia memiliki potensi besar menjadi pusat wisata bahari dunia. Bali sebagai destinasi unggulan yang telah dikenal wisatawan mancanegara memiliki peluang besar berkembang sebagai pusat aktivitas yacht dan kapal pesiar di kawasan Asia Tenggara bila didukung kebijakan yang adaptif, penataan ruang yang terintegrasi, serta infrastruktur yang memadai.

BMTH dirancang sebagai kawasan marina modern yang mampu menampung hingga 188 yacht, termasuk super yacht dan mega yacht, serta menyediakan fasilitas tambat bagi hingga lima kapal pesiar berukuran besar. Kawasan tersebut juga akan dilengkapi area hiburan, pusat perbelanjaan, ruang terbuka hijau, taman publik, dan berbagai fasilitas pendukung lainnya guna menghadirkan pengalaman wisata bahari berkelas dunia.

"Para wisatawan ini bukan hanya datang untuk singgah. Mereka bisa tinggal berminggu-minggu, berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun. Artinya, mereka akan berbelanja, menggunakan berbagai layanan, dan menggerakkan roda perekonomian masyarakat Bali," jelasnya.

Guna mempercepat pengembangan BMTH, pemerintah terus mengoordinasikan penyelesaian berbagai isu strategis, mulai dari deregulasi layanan marina dan kapal pesiar, integrasi layanan lintas instansi, percepatan penyesuaian tata ruang, hingga penataan kawasan Pelabuhan Benoa. Langkah tersebut dilakukan agar BMTH memiliki kepastian regulasi dan mampu bersaing sebagai destinasi wisata bahari internasional.

Nilai Tambah untuk Masyarakat

Salah satu langkah penting ialah penataan aktivitas kepelabuhanan melalui relokasi bertahap kapal-kapal perikanan menuju Pelabuhan Perikanan Pengambengan yang tengah dikembangkan oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP). Penataan tersebut diharapkan membuka ruang bagi optimalisasi kawasan marina sekaligus meningkatkan keselamatan pelayaran, kenyamanan wisatawan, serta daya saing BMTH sebagai pusat wisata bahari.

Percepatan pembangunan BMTH harus tetap mengedepankan prinsip pembangunan berkelanjutan agar pertumbuhan ekonomi berjalan selaras dengan pelestarian lingkungan hidup dan budaya Bali. "Karena itu, seluruh proses pembangunan BMTH akan mengedepankan prinsip keberlanjutan (sustainability), memperhatikan aspirasi masyarakat, serta berjalan sesuai Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) dan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)," papar  AHY.

Menurutnya, keberhasilan BMTH tidak hanya diukur dari megahnya infrastruktur yang dibangun, tetapi juga dari kemampuannya menciptakan nilai tambah bagi masyarakat, membuka lapangan kerja, menarik investasi, dan memperkuat posisi Indonesia sebagai negara maritim.

"Mengapa tidak jika visinya menjadikan kawasan ini sebagai salah satu marina terbesar dan terbaik di Asia Tenggara? Indonesia sebagai negara maritim dan negara kepulauan terbesar sudah sepatutnya menjadi hub sekaligus pusat wisata bahari yang mendunia," tutur Menko AHY.

Dalam peninjauan tersebut, Menko AHY juga memperoleh pemaparan mengenai progres pengembangan BMTH, termasuk percepatan deregulasi, penyesuaian tata ruang, pengembangan kawasan marina, serta rencana relokasi aktivitas perikanan sebagai bagian dari transformasi Pelabuhan Benoa menjadi pusat pariwisata maritim terpadu.

Menko AHY dalam kunjungan tersebut didampingi Sekretaris Kementerian Koordinator Ayodhia G. Kalake, Deputi Bidang Koordinasi Pemerataan Pembangunan Wilayah, Agraria, dan Tata Ruang Nazib Faizal, Deputi Bidang Koordinasi Konektivitas Odo R. M. Manuhutu, serta Staf Khusus Bidang Hukum dan Regulasi Kementerian Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Sigit Raditya.

Penataan Kapal Perikanan

Salah satu isu strategis yang menjadi perhatian dalam pengembangan BMTH adalah penataan kapal perikanan yang saat ini masih bersandar di kawasan BMTH. Penataan dilakukan secara bertahap seiring dengan rencana pembangunan Pelabuhan Perikanan Pengambengan sebagai lokasi relokasi aktivitas perikanan di masa mendatang.

Direktur Pengembangan Usaha Pelindo, Prasetyo, mengatakan bahwa penataan kawasan dilakukan untuk menciptakan tata kelola pelabuhan yang lebih aman, tertib, dan mampu mengakomodasi berbagai aktivitas maritim secara berdampingan.

"Penataan kawasan ini merupakan bagian dari upaya mewujudkan kawasan pelabuhan yang aman, tertib, dan memiliki fungsi yang semakin optimal. Dengan pengaturan ruang dan alur pelayaran yang baik, aktivitas perikanan tetap dapat berjalan, sementara pengembangan marina internasional juga dapat berlangsung secara harmonis dengan tetap mengedepankan aspek keselamatan, keamanan, dan kelancaran operasional," ujar Prasetyo.

Area Pengembangan I BMTH direncanakan menjadi Marina District yang mampu menampung hingga 180 kapal yacht dengan panjang maksimum mencapai 90 meter. Kawasan ini akan dilengkapi berbagai fasilitas pendukung, antara lain area hiburan (entertainment district), kawasan gaya hidup (lifestyle district), serta ruang publik yang terintegrasi sebagai destinasi pariwisata maritim bertaraf internasional.

Pengembangan BMTH diharapkan semakin memperkuat posisi Pelabuhan Benoa sebagai gerbang pariwisata maritim Indonesia. Hal tersebut tercermin dari tren positif kunjungan kapal pesiar yang terus meningkat.

Sepanjang tahun 2025, tercatat 65 kapal pesiar internasional bersandar di Pelabuhan Benoa, meningkat 16 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Sementara itu, jumlah wisatawan internasional yang datang melalui kapal pesiar mencapai sekitar 146 ribu orang, atau tumbuh 36 persen secara tahunan.

Melalui sinergi antara pemerintah, Pelindo, serta seluruh pemangku kepentingan, pengembangan BMTH diharapkan mampu menjadi katalis pertumbuhan ekonomi Bali, memperkuat daya saing pariwisata maritim Indonesia, sekaligus menjadikan Pelabuhan Benoa sebagai salah satu destinasi marina dan kapal pesiar terkemuka di kawasan Asia Pasifik. (Arry/Mar)




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook