- 5 Bulan Disandera Perompak Somalia, 4 ABK Kapal MT Honour 25 Selamat Bisa Kembali ke Indonesia
- Tok! DPR Sahkan UU Ketenagakerjaan, Ini 13 Poin Aturan Baru Lindungi Pekerja
- Tolak Kekerasan, KKP Jamin Keselamatan Awak Kapal Perikanan, Catat Nomor Pengaduan 24 Jam
- Dugaan Penyiksaan ABK, KKP Tangguhkan Izin Operasional KM Maulana 23
- Menaker: RUU Pelindungan Ketenagakerjaan Hadirkan Era Baru Hukum
- Dirut Pelindo Sambangi Mabes TNI AL, Ada Apa ?
- IPC TPK Gelar Cek Kesehatan Gratis dan Bagikan Kacamata untuk 150 Sopir Truk Peti Kemas
- Direktur UKW PWI Pusat Aat Surya Safaat: Jaga Integritas Profesi Wartawan
- Buka UKW Angkatan ke-66 PWI Jaya, Wali Kota Jakpus: Pemprov dan Pers Bergandengan
- RUU Pelindungan Ketenagakerjaan Disetujui Lanjut ke Pembicaraan Tingkat II
5 Bulan Disandera Perompak Somalia, 4 ABK Kapal MT Honour 25 Selamat Bisa Kembali ke Indonesia
Disambut Menlu dan Menteri PMK

Keterangan Gambar : Menko PMK Sugino dan Menteri Luar Negeri Arrmanatha, menyambut kepulangan empat ABK korban penyanderaan bajak laut Somalia. Mereka tiba di Bandara Soekarno-Hatta pada Selasa (6/10/2026) malam. Foto: Kemlu
Indonesiamaritimenews.com (IMN), JAKARTA: Empat ABK Indonesia yang bekerja di kapal tanker MT Honour 25 yang selama lima bulan disandera perompak Somalia, akhirnya bisa pulang ke Indonesia. Mereka tiba dengan selamat di Bandara Soekarno Hatta, Selasa (6/10/2026) malam.
Kepulangan keempat kru kapal MT Honour tersebut didampingi oleh Dubes Indonesia untuk Nairobi, Tyas Baskoro Her Witjaksono Adji. Di Bandara Soekarno Hatta mereka disambut oleh Menteri Luar Negeri Arrmanatha Nasir serta Menko PMK Sugiono.
Keempat ABK tersebut:
1. Ashari Samadikun, asal Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan (kapten kapal).
2. Wahudinanto, Chief Officer (Mualim I) asal Pemalang, Jawa Tengah.
3. Adi Faizal, asal Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan (Mualim II).
4. Fiki Mutakin, Anak Buah Kapal (ABK) asal Bogor, Jawa Barat
Baca Lainnya :
- Tolak Kekerasan, KKP Jamin Keselamatan Awak Kapal Perikanan, Catat Nomor Pengaduan 24 Jam0
- Direktur UKW PWI Pusat Aat Surya Safaat: Jaga Integritas Profesi Wartawan0
- Buka UKW Angkatan ke-66 PWI Jaya, Wali Kota Jakpus: Pemprov dan Pers Bergandengan0
- Insiden Kecelakaan KM Virgo Ttansport 8 Jangan Hanya ABK yang Bertanggung Jawab0
- Pelindo Kenalkan ADHARA, Konektivitas Terpadu Ekosistem Maritim Satu Platform Digital0
Tangis keluarga pecah menyambut kedatangan mereka, bahkan ada yang pingsan. Suasana haru menyelimuti kepulangan keempat kru kapal MT Honour 25 tersebut. Salah satu dari mereka, Fikri Mutakin duduk di kursi roda dengan kaki dibalut perban. Fikri menjadi korban penembakan para bajak laut saat operasi pembebasan yang dilakukan oleh Pemerintah Somalia dan otoritas Puntland.
Hampir 6 Bulan Disandera
Kapal MT Honour 25 yang membawa bahan bakar minyak (BBM) dan 17 ABK disandera oleh bajak laut di Somalia pada Selasa (21/4/2026). Dari 17 ABK tersebut, 4 di antaranya warga negara Indonesia (WNI), 11 warga Pakistan, 1 Srilangka dan 1 dari India.
Menteri PMK Sugiono yang saat itu menjabat sebagai Menteri Luar Negeri melakukan berbagai langkah diplomasi, termasuk berkomunikasi langsung dengan para pelaku untuk membebaskan keempat WNI tersebut.
Sugiono yang kini menjabat sebagai Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) menyampaikan rasa syukur atas kepulangan keempat WNI tersebut.
"Sore hari ini kami menjemput saudara-saudara kita yang selama lima bulan sepuluh hari mengalami satu kasus penyanderaan. Dan puji syukur kehadirat Tuhan YME, Allah SWT, kita bisa menyambut kedatangan saudara-saudara kita, yang setelah melalui perjalanan panjang bisa kembali dengan selamat ke Tanah Air, ke pangkuan keluarga mereka tercinta,” ujar Sugion di Bandara Soetta.
Menko PMK langsung bergerak memobilisasi kementerian terkait. Hal ini ditegaskan agar tugas pemerintah tidak berhenti pada proses evakuasi saja, melainkan tuntas hingga fase rehabilitasi kesehatan dan sosial.
“Pada kesempatan ini, saya selaku Menko PMK ingin memastikan kelanjutan dari proses ini, di mana perawatan kesehatan saudara-saudara kita bisa dilakukan dengan baik,” tegas Sugiono.
“Saya juga ingin mengucapkan terima kasih kepada Kementerian Luar Negeri, Kementerian Perhubungan, seluruh Anggota Komisi I DPR RI, KBRI Nairobi, dan seluruh pihak yang terlibat dalam proses pembebasan dan pemulangan saudara-saudara kita,” tandasnya.
Diplomasi Panjang
Sementara itu Kementerian Luar Negeri menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Somalia dan otoritas Puntland, Kementerian Perhubungan, Komisi I DPR RI, Perwakilan RI terkait, pihak pemilik kapal, pemerintah negara asal kru lainnya, serta seluruh pihak yang telah mendukung proses pembebasan dan pemulangan para kru.
Menteri Luar Negeri, Arrmanatha menjelaskan bahwa proses pembebasan memerlukan waktu panjang dan melibatkan diplomasi serta koordinasi dengan berbagai pihak. “Sejak awal Kementerian Luar Negeri telah melakukan diplomasi dengan berbagai pihak. Koordinasi kita tidak saja dilakukan dengan Pemerintah Somalia dan pemilik kapal, namun juga dengan pemerintah-pemerintah yang warga negaranya ikut di dalam kru kapal,” ujar Menlu.
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada Menko PMK Sugiono yang pada saat proses penanganan kasus masih menjabat sebagai Menteri Luar Negeri. “Pak Menko Sugiono, yang pada saat itu adalah Menteri Luar Negeri, langsung memimpin dan memberikan perhatian yang sangat tinggi dalam proses perundingan dan upaya-upaya pembebasan para ABK ini,” ujar Arrmanatha.
Apresiasi juga diberikan kepada kapten kapal atas kepemimpinannya selama masa penyanderaan, serta kepada keluarga para kru atas kesabaran mereka selama hampir enam bulan menanti.
Penyambutan dilanjutkan dengan prosesi serah terima kru kapal dari Kementerian Luar Negeri kepada perwakilan keluarga. Selanjutnya, seluruh kru dijadwalkan untuk melanjutkan perjalanan ke daerah asal masing-masing.
Sejak 21 April 2026, Kementerian Luar Negeri melalui Direktorat Pelindungan WNI dan KBRI Nairobi telah melakukan serangkaian upaya pembebasan kapal beserta seluruh krunya melalui koordinasi intensif dengan otoritas dan berbagai pihak di Somalia, serta pendekatan kepada perwakilan negara asal para kru.
Selama proses penanganan, Kementerian Luar Negeri bersama Kementerian Perhubungan juga telah melaksanakan rangkaian kegiatan family engagement pada 5–7 Mei, 8–11 Juni, serta 15 September 2026 guna menjaga komunikasi dengan keluarga serta memastikan tersampaikannya informasi yang akurat mengenai perkembangan penanganan kasus.
Puncaknya, pada 29 September 2026 dilakukan operasi pembebasan oleh otoritas Puntland. Pada operasi pembebasan ini, 5 ABK asal Pakistan dan India dilaporkan tewas, diduga dieksekusi bajak laut. (Arry/oryza)











