NEWS - Indonesia Maritime News (IMN)

TERDAFTAR: IDM000087670
DEPARTEMEN HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA
DIREKTUR JENDERAL HAK KEKAYAAN INTELEKTUAL
Kadispen Kolinlamil Letkol Laut (P) Widyo Sasongko SE,M Tr :"Saya kecewa CSR Pelindo hanya untuk makan "
Lakukan Transformasi Informasi Maritim di Era Globalisasi


Indonesiamaritimenews.com(IMN),JAKARTA: TIM IMN melaju memasuki Gerbang Markas Kolinlamil Pelabuhan Tanjung Priok untuk berdiskusi dengan Kadispen Kolinlamil Widyo Sasongko.SE,MTr sesuai janji.Ombak beriak kecil, berkejaran ke tepi. Terlihat kapal-kapal perang yang sedang bersandar.Ada nuansa berbeda, menggelitik, memuncahkan keingitahuan, tentang peran berbagai kapal perang itu hingga berjaya dilaut sebagai perisai bangsa.

Tim IMN langsung berjalan menuju kantor Kadispen Kolinlamil.Ternyata dia sudah menunggu dan menyambut pertemuan.Pertama yang ditangkap saat bertemu Widyo,dia adalah lelaki yang bersahaja, mudah akrab dan enak diajak berkomunikasi.Saat berdialog mengalir pikiran besarnya bagaimana memajukan Maritim Indonesia, dari sisi transformasi informasi,sektor wisata bahari dan pertahanan laut di era globalisasi.

Pada saat itu, terlihat beberapa pengunjung turun dari kapal perang.Ternyata peminat yang datang berkunjung setiap tahun melihat kapal-kapal perang yang bersandar sangat tinggi,"sepuluh ribu pengunjung wisata bahari yang datang ke kolinlamil. Itu Potensi besar," kata Letkol Laut (P) Widyo Sasongko SE,M Tr mengawali pembicaraan dengan IMN di ruang kerjanya beberapa waktu lalu.

INTEGRASI
Sebenarnya potensi itu, lanjut Widyo, bisa digali lebih besar bila digarap dengan baik,namun sayangnya, "Pelindo juga membuka museum bahari namun tidak bersenergi,tidak terintegrasi sehingga jalan sendiri sendiri, berjalan disektornya masing masing

Pada hal,tambah Kadispen,kita punya banyak ahli maritim yang mempunyai kosep bagaimana membangun maritim. Beberapa dari mereka pernah kita undang sebagai salah satu pembicara dalam diskusi. "Pada saat itu yang menjadi pembicaraan adalah tentang apa yang dilakukan TNI AL tidak berkembang dari tabun 60 sd tahun ini, modelnya begitu saja.Tidak berkembang karena tidak ada keinginan untuk mengembangkan resources ini,"kata Letkol Laut (P) Widyo Sasongko yang juga Komandan KRI NSV 973 sampai sekarang.

Ketika hendak mengembangkannya ada persoalan baru,"Siapa yang bisa membantu, ini yang kita butuhkan?" tanya dia. "Padahal wisata bahari Kolinlamil dan Pelindo bisa terintegrasi menjadi?one packet. Jadi bila orang datang ke pelabuhan tidak hanya ke Kolinlamil, karena di sini tempat induksi anak. Di Kolinlamil anak-anak bisa melihat kapal senjata,Meriam dua puluh, empat puluh alat navigasi,teropong,permesinan sudah cukup mengetahui itu."

Sayangnya hanya melihat saja, padahal dibutuhkan pengenalan lebih mendalam lagi sehingga orang tertarik kepada wisata bahari.. "Menurut saya kita harus berubah dan yang paling memungkinkan Pemda. Ini desninasi Pemda Jakarta Utara. Kedua Pelindo. Kita berharaplah karena Orang yang mecintai angkatan laut, navigasi, mencintai laut juga berpengaruh kepada Pelindo. Globalisasi itu berubah, zaman berubah, Pelindo juga berubah,"harap lelaki alumni Indonesia Naval Academi 1999 ini.

KECEWA
Widyo melihat ada kebijakan Pelindo yang mengeluarkan biaya besar dengan hasil tak maksimal seperti membersihkan sampah hingga menelan Rp 100 juta."Kemarin saya ke cewa, itu orang pada bersih-bersih. saya tidak setuju uang CSR hanya habis untuk makan dan bersih bersih saja.Sampahnya diangkat, habis itu orang itu akan membuat sampah lagi,"tandas alumnus ekonomi UNKRIS ini.

Menurut Widyo ada cara lain yang bisa membersihkan pelabuhan lebih efektif dengan memotivasi orang mengelola sampah menjadi penghasilan."Saya setuju,Bila Pelindo membantu kantor-kantor yang ada di sini dengan alat pemecah biji plastik,misalnya dengan membeli mesin. Ada mesin yang bisa mengelola botol botol plastik keluar menjadi biji plastik, harganya tidak mahal hanya Rp 25 juta.Pelindo memberikan CSR itu dalam bentuk mesin. Anggota Kolinlamil yang rajin mengumpulkan dan bisa menjual.Itu penghasilan dia.Tapi yang jelas kita tidak menambah sampah lagi."

"Paling tidak tak membuat sampah karena menghilangkan sampah bukan solusi.Kita lebih banyak membuat sampah dengan apa yang kita lakukan.Belum ada penelitian Kosumsi manusia yang bekerja di laut dengan manusia yang ada di darat mana sampah plastiknya yang lebih banyak? Tetapi kebanyakan sampahnya dibuang kelaut.Nah kalau kantor di sini diberi mesin mengelola plastik nanti akan bisa dihitung berapa banyak menghasil biji plastik. Karena bila kita membuang sampah kemudian difoto lalu menambahnya lagi sama saja. Itu bukan solusi," tandas alumni Dikreg Seskoal LV 2017 ini.


Kalau ada mesin pemecah plastik, lanjut Widyo,"Orang kantor akan mengumpulkan botol plastik.
Satu karung masukan ke mesin jalakan dengan dinamo. Atau mesin itu kita berikan pada pemulung di pinggir pantai kemudian dia menjualnya dalam bentuk biji plastik.Sekarung di jual akan lebih mahal lagi. Kita menaikan tingkat penghasilan pemulung,"katanya beranalogi.

Menurut Lelaki dari keluarga transmigrasi di Jambi Ini, situasi dan kondisi sudah berbeda, "Kita harus berubah. Ini kita membersihkan sampah hinga Rp 100 juta apa out put-nya?Ide saya ini sudah lama untuk lingkungan, cuma belum bisa mengungkapan kepada siapa?"kata Widyo menggaris bawahi.

INFORMASI
Menurut Widyo,membangun orang agar mengenal dan mencintai maritim tidak bisa lagi dengan cara yang lama namun harus ada transformasi informasi dan merubah mindset.Tidak,"Seperti ini, datang kemudian lihat-lihat.Cara terbaik mereka, anak-anak itu punya hp di informasikan tentang kapal-kapal yang tidak mempunyai peran penting di peperangan.Kolinlamil rata rata kapal angkut,"jelas Widyo.

Kalau dibolehkan, Lanjut Widyo, sekarang kita buat web khusus kapal perang.Jadi orang terdata mendapatkan info."Saya menginginkan sumbangan Pelindo membangun VR (Virtual reality atau realitas maya) Jadi anak masuk ke kapal mereka memakai kaca mata,melihat seperti yang sebenarnya,oh begini.Kita pasang video Vector. Jadi sebelum masuk dia buka aplikasi KRI,pasang TR (Transmission Range) kemudian merapatkan hpnya maka akan keluar gambar. Nah,itu menarik, dijelaskan bagaimana turunnya helikopter di kapal.

Lelaki kelahiran Bangko, Jambi 1974 ini berkeinginan kuat membangun transformasi informasi wisata bahari itu."Kita bangun. Kita butuh anggaran. Kerja sama saling membangun.Penghuni Pelindo dan angkatan laut. Ya, untuk generasi anak muda ini.Bila ingin terobosan lebih gila kita buat game one line. Jadi merubah game oneline dari kekerasan menjadi edukasi.Anak anak itu main game kan cari duit dan bangga . Kita Rubah menjadi Maritime Indonesia Game Online. Kita kasih dia nginap dihotel menikmatinya. Masak ngak bisa sih, orang yang punya animasi saja sudah menawarkan!"

Anak -anak yang menjadi penghuni Pelindo dan angkatan laut, ungkap Widyo,berikutnya tidak perlu di switch mereka sudah mateng."Kalau tak percaya lihat di Amerika di sana ada navy forget, FBI Forget jadi anak anak yang mau berja di FBI sudah mendapat infonya."

Widyo mengkuatirkan bila perubahan pemberian informasi tidak dilakukan, "Anak anak kita akan lari keluar.Iya, Kita kerja butuh makan, bukan sinterklas. Cuma,bila itu dilakukan out put-nya bagus banget.Negara merasa diuntungkan.Saya setujunya demikian,"katanya.

KOMODO OUTSOURCES 2020
"Sekarang saya sedang membangun berapa konsep. Angkatan Laut RI akan mengadakan Komodo Out sources 2020. Puluhan kapal perang akan merapat ke sini, tahun lalu menghadirkan kapal perang asing dari 35 negara diantaranya Amerika, Cina, Unisoviet. Mereka berkumpul disini.Ini akan mengocangkan Jakarta. Ada Parade. Nanti akan kita kondisikan bar-bar yang mana saja digunakan agar tidak ketemu Rusia dan Amerika, Kalau sudah mabuk tidak ada yang kontrol,"ucapnya.

Pengaturan penyandaran kapal juga diatur."Nanti lego jangkarnya saja akan kita pisahkan antara Amerika, cina dan Rusia.Kalau kita dekatkan Amerika dan Rusia mereka bisa perang elektoronik di situ.Mereka secara elektronik kuat dan unggul.

Maka kalau kapal perang mereka lagi jalan,jelas Widyo, kita menjaga jangan sampai radar kita tertutup.Kapal Induk Amerika itu, bisa menguasa 200 milk sekelilingnya. Dia bisa melarang pihak lain dalam radius itu. Kapal induk memiliki berbagai jenis pesawat dan kapal selam. Dia sudah siap mengatur sinyal.Perang di laut by design, membutuh angaran.

Kapal perang sekali jalan 20 ton satu hari, batalion 40 ton sudah cukup setahun, terang Widyo, Laut itu tidak bisa dikuasai tetapi diduduki. Bila kita punya sumber daya tetapi tidak dimanfaatkan maka dimanfaat orang lain.Zona Ekonomi Ekslusif (ZEE) penggunaannya, kalau tidak digunakan orang lain menggunakannya.

MEDIA
Sebagai Kadispen Kolinlamil, Jabatan yang baru disandang Widyo, ia mempelacari dan melihat betapa pentingnya media massa. Dia akan membuat paparan ke Kasal tentang media, "Peperangan sekarang bukan peralatan saja tetapi juga media.Sadari media menjadi medan perang. Ia menggandeng ahli untuk paparan, literasi digital pengadaan perang dan bermanfaat. TNI AL yang pertama melaksanakan. Insyaallah bila panglima setuju. Sehingga menggunakan internet baik dan benar seca konigtif, bahasa terukur dan intlektual.Konsep ini juga bekerja sama denan toko online mengundang mereka sebagai Nara sumber. Sehingga Anggota Kolinlamil tidak hanya menjadi konsumen terus tetapi ada yang terlibat di Industri itu..

Konsep itu, menurut Widyo, disampaikan melalui Aspers dan Kadispom dengan efek pantulan saja. Nanti yang memberikan pemaparan tetap saja timnya. Baginya yang penting,"Mimpi saya bisa diwujudkan. Dispen ini angarannya minim. Mewujudkan mimpi resikonya keluar dana bahkan minus, beli laptop, istagram dan latihan membuat grafis."

Widyo menawarkan Pelindo bisa ikut latihan itu.Namun ia minta izin ketemannya lebih dahulu karena mereka membantu secara pribadi,"Saya izin dulu. Mereka membuat riset menarik.Data yang banyak menjadi satu lembar, kita sudah tau,sebentar saja dia jelaskan.Kolinlamil, 700 flower,184 flowers sebulan, menampilkan berita menarik, pakai kalimat berkaitan dengan kegiatan,edukasi, gambar penjelasan. Ini aturan dari unclos,anturan ISPS code Pelindo bisa diaplikasikan ke situ," ajak lelaki dari tiga putri ini.

AWARD
Satu hal lagi ide Widyo tentang bagaimana pemberian award terhadap pelaku di dunia maritim.Hingga kini, ia melihat belum ada satu pun prestasi pelaku yang berkecimpung di dunia maritim mendapat penghargaan award maritim skala nasional.

Coba bayangankan, ungkapnya,"Bila prestasi pelaku didunia maritim diberikan penghargaan betapa senangnya mereka. Misalnya saja mereka yang sudah berbulan-bulan berlayar, atau berhasil memajukan dunia maritim termasuk pelabuhan diberikan award, betapa senang hatinya," kata widyo seperti mewakili perasaannya menjadi komandan kapal perang berlayar di laut lepas berhari-hari.

Ia ingin menggandeng pihak mana pun untuk mengembangkan dan memajukan Maritim Indonesia dan bersama bisa memberikan award maritim. Bagi Widyo bukan soal hadiahnya,"Tetapi bila penghargaan itu di berikan Presiden, Wah... bahagianya,"kata Widyo sambil senyum sumbringah seakan mimpi dan harapannya itu menjadi kenyataan.

Pembicaraan IMN dengan Lelaki berayah Jawa dan Ibu Padang ini mengalir begitu saja. Seakan suara kami saja yang terdengar di ruang itu.Para staf dan anggota di Kolinlamil sudah kembali ke rumahnya.Terlihat hanya beberapa petugas yang piket pada hari itu. Ternyata diskusi kami begitu panjang,waktu telah berdenting berkali-kali.

Widyo terus berpikir dan melangkah mengembangkan maritim ,bak kapal perang yang dikomandoinya, terus berlayar memecah gelombang di samudera. Bisa memenangkan perang di lautan dengan peralatan canggih dan memenangkan opini di media serta dunia maya sesuai tugasnya sebagai Kadispen Kolinlamil.

Kami menyudahi percakapan meneruskan tugas lain yang menanti dan berpisah dengan Widyo yang beropsesi mewujudkan impiannya.

Burung Camar di Sisi dermaga bercanda satu dan lainnya sesekali menyentuh permukaan air. Kadang mereka hinggap di sisi kapal perang, terdengar cuit bersahutan.Nuansa itu membuat kami terpaku, enggan meninggal tembang senja, alam laut yang mempesona.(M. Arifin Mukendar)

(-)

Image

Index

Ratusan Siswa UPI Antusias Kunjungi Kapal Perang Mako Kolinlamil

"Aku Mau Jadi Tentara"

Kadispen Kolinlamil Letkol Laut (P) Widyo Sasongko SE,M Tr :"Saya kecewa CSR Pelindo hanya untuk makan "

Lakukan Transformasi Informasi Maritim di Era Globalisasi

Kejuaraan Dayung di Thailand

Prajurit Kolinlamil Raih Prestasi Gemilang

Kolaborasi Membangun Pelabuhan Padang

"Onde Mande Rancak Bana Ko"

Siswa SMP Digigit Hiu Di Papua

Berenang di Pantai Nabire

Turis Rusia Diserang Buaya di Raja Ampat

Ditemukan Tewas

Danau Toba Dibuat Seperti di Paris

Genjot Industri Pariwisata

18 Pelabuhan Siap Layani Yacht Asing

Untuk mendongkrak kunjungan wisatawan

HUT RI ke 70 Ancol

Panjat pinang kolosal dan panggung musisi

Sail Raja Ampat 2014

Kapal Perang Lakukan Sailing Pass Penghormatan Pada SBY

Poll

Subscribe Newsletter