NEWS - Indonesia Maritime News (IMN)

TERDAFTAR: IDM000087670
DEPARTEMEN HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA
DIREKTUR JENDERAL HAK KEKAYAAN INTELEKTUAL
Insinyur Perkapalan Tembak Mati Teroris
AKBP Ir. Ahmad Untung Sangaji

Indonesiamritimenews.com (IMN),JAKARTA : Teror bom dan penembakan di Jl. Thamrin, Jakarta Pusat, membuat nama AKBP Ahmad Untung Sangaji jadi trending topic. Siapa sangka sesungguhnya perwira ini adalah insinyur perkapalan. Untung Sangaji jadi topik pembicaraan netizen di dunia maya lantaran aksi heroiknya menembak mati dua terduga teroris yang menenteng senjata api dan membawa bom di ransel saat terjadi teror di depan Gedung Sarinah, Jl. Thamrin, Kamis (14/1/2016). Tembakan jitu Untung mengenai kaki pelaku, bom terjatuh dan meledak. Tanpa mengenakan rompi anti peluru, Untung yang saat itu mengenakan kemeja putih, mengendap-endap dan berhadapan langsung dengan pelaku teror. Tembakan kedua mengenai perut pembawa bom, dan bom kedua meledak lebih besar lagi hingga menewaskan kedua pelaku. Adegan menegangkan ini ditonton ratusan mata dan direkam orang-orang yang berada di gedung tinggi sekitar Sarinah. Lelaki berdarah Ambon-Sunda tersebut ketika itu bersama anakbuahnya, Ipda Tamat melepaskan berkali-kali tembakan. Spekulasi pun saat itu bermunculan, banyak yang menyebut dua pria berbaju putih itu adalah pelaku teror. Padahal sebelum menembak Untung terekam fotografer tengah membopong polantas yang luka parah kena ledakan bom paku sesaat setelah pos polantas di depan Sarinah porak poranda akibat bom. Namun adegan ini tidak terekam di video amatir warga.? Jati diri mereka baru terungkap setelah olah TKP selesai dilakukan dan polisi memberi klarifikasi, bahwa kedua pria berbaju putih tersebut adalah polisi.? ?Saya sempat marah dan jengkel dibilang teroris,? kata Untung. PENEMBAK JITU Pasca teror terjadi, nama AKBP Untung kini terkenal tak hanya se-Indonesia, tapi juga mendunia. Dari sekian banyak polisi bersenjata lengkap yang ada di lokasi teror, Untung memang yang berhadapan langsung dengan pelaku. Prinsip saya, lebih baik mati untuk seribu orang daripada seribu orang mati untuk kita,? tegas Untung kepada wartawan. Mantan anggota Detasemen 88 Polda Metro Jaya ini punya prinsip, ia digaji oleh negara dan harus mengabdi pada negara. ?Ketika teror terjadi, kata Untung, ia dan Ipda Tamat memang sedang bertugas mengawasi jalur protokol yang sering dilalui Presiden. Selain itu kepolisian saat ini sedang meningkatkan kewaspadaan karena berdasarkan data intelijen kelompok teroris mulai menyiapkan aksi. Pimpinan Polri dan pimpinan Polda Metro Jaya disebutkan menjadi target. ?Kami kan sedang diincar,? ungkap Untung. Kamis (14/1/2016) pagi bersama Ipda Tamat ia bermaksud ngopi di Starbuck Cofe di Sarinah. ?Tapi di sana ternyata tidak boleh merokok. Kami pilih ngopi di tempat lain nggak jauh dari tempat itu,? cerita Untung. Saat nongkrong itulah terdengar ledakan keras. Mereka berdua berlari ke sumber suara dan ternyata ternyata pos polantas hancur, tiga jasad tergeletak dan satu polantas terkapar. Tak lama terlihat satu lelaki bertopi hitam membawa ransel besar dan menembak ke segala arah hingga mengenai satu warga. Kerumunan massa pun langsung bubar, warga yang tadinya menonton lari berhamburan. Ketika itulah Untung mengejar pria itu yang belakangan diketahui bernama Afif. Pria ini bersama satu temannya yang mengenakan rompi anti peluru mengendap-endap di balik sebuah mobil. Dari jarak jauh, Untung melepaskan tembakan. ?Saya lakukan sesuai SOP (standar operasi), tembak kakinya. Tangannya membawa bom dan senjata api. Bom yang dibawa jatuh dan meledak,? urai Untung. Tembakan lainnya mengenai tubuh pria itu dan kembali bom lainnya meledak lebih besar. Dua pelaku teror tewas di tempat. ??Yang saya pikirkan adalah ransel berat yang dibawanya itu bila meledak akan sangat berbahaya. Berapa banyak korban yang akan muncul,? tukas Untung. Pasca melumpuhkan pelaku teror, Untung sempat menelepon istrinya. ?Istri saya marah karena saya memang nggak pernah pakai rompi,? tukasnya. IDENTITAS 7 KORBAN TEROR Seperti diketahui, teror bom dan penembakan terjadi di Starbuck Coffe samping Gedung Sarinah dan di pos polantas Jl. Thamrin, Jakarta Pusat. Kejadian ini mengakibatkan jatuh korban 33 orang, 7 di antaranya tewas. Berikut identitas korban yang tewas berdasarkan data Polda Metro Jaya: 1. Rico Hermawan, 21, warga Jakarta Timur, pengendara motor yang sedang ditilang polantas. 2. Sugito, kelahiran 1973, bisa terduga teroris, bisa juga korban. 3. Dian Joni Kurniadi, kelahiran 1990, diduga pelaku, asal Kotawaringin, Kalimantan. 4. Afif, alias Sunakin, asal Sumedang, Jawa Barat. 5. Amel Quali Taher (WN Kanada) kelahiran 1946, meninggal ditembak pelaku. 6. Muhammad Ali, diduga pelaku, kelahiran 1976, meninggal di depan Starbucks. 7. Ahmad Muhazin, diduga pelaku bom bunuh diri di dalam Starbucks. (Arry/Yasmin/Mar)

Image

Index

Kapal Meledak, 5 Pekerja Tewas

Sedang Dirakit di Serang

MTI Minta Opini Jaksa

Pengelolaan aset dan dana perusahaan

Istri Kapolri Menyelam Kibarkan Merah Putih

Di Bawah Laut Raja Ampat

6 Kontainer Pupuk Palsu Disita

Di Pelabuhan Tanjung Priok

BC Tangkap CAJMAV Warga Perancis

Selundupan Marijuana dan Hashish di dubur

Nelayan Tetap Tolak

Reklamasi Teluk Jakarta

Dirjen Hubla Kemenhub, Bobby Mamahit Ditahan

Kasus Pembangunan BP2IP di Sorong

Insinyur Perkapalan Tembak Mati Teroris

AKBP Ir. Ahmad Untung Sangaji

Gayus Tambunan Keluyuran Lagi

Kepergok Makan Di Restoran

57 Kg Shabu China Dibawa Pakai Kontener

Diselundupkan di Pelabuhan Panjang

Poll

Subscribe Newsletter