NEWS - Indonesia Maritime News (IMN)

TERDAFTAR: IDM000087670
DEPARTEMEN HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA
DIREKTUR JENDERAL HAK KEKAYAAN INTELEKTUAL
Pelaut Indonesia Diminati Dunia
Etos Kerja Lebih Unggul tapi jumlah yang dihasilkan masih kurang

Indonesiamaritimenews.com (IMN),JAKARTA: Pelaut Indonesia diminati oleh perusahaan pelayaran asing karena dinilai lebih unggul namun jumlah pelaut yang dihasilkan Indonesia dalam setahun masih kalah dibandingkan Filipina.




Sekolah pelayaran di Indonesia baru mampu meluluskan 570.000 pelaut, sedangkan Filipina bisa mencetak total 2 juta pelaut. Indonesia baru mampu mencetak 7.000 pelaut dalam setahun. Masih minimnya lulusan sekolah pelayaran karena jumlah sekolah pelayaran juga masih minim.




Hal ini diungkapkan oleh Kepala Badan Pengembangan SDM Kemenhub, Wahju Satrio Utomo dalam diskusi di Jakarta, Senin (12/10/2015). "Pelaut Filipina yang bekerja di kapal asing mencapai 400.000," Wahju. "Di Filipina sekolah pelayaran kayak rumahan, dia lebih banyak belajar di atas kapal," tambah Wahju. Padahal pelaut Indonesia paling dicar oleh perusahaan pelayaran asing.




"Pelaut Indonesia paling disiplin. Kita disiplin karena pendidikan seperti dari awal. Di asrama, ada skenario di kapal dan sistem piket,? jelas Wahju. Hanya saja pelaut dari negara lain lebih unggul di bidang penguasaan bahasa Inggris.




Saat ini Indonesia baru memiliki 10 sekolah pelayaran milik pemerintah. Rencananya, Kementerian Perhubungan akan menambah sekolah pelayaran guna menggenjot jumlah pelaut yang dihasilkan pertahun.




"Sekarang ada 10 sekolah pelaut, nanti tambah Minahasa Selatan, Padang Pariaman, yang baru sekali Maluku dan NTT," kata Wahju.




PILIH KAPAL ASING




Data di Kementerian Perhubungan, pelaut Indonesia yang menjadi ABK (Anak Buah Kapal) di perusahaan pelayaran asing jumlahnya mencapai sekitar 78.000 orang. Sedangkan Komisi Pelaut Indonesia (KPI) mencatat, sekitar 400.000 pelaut Indonesia bekerja di kapal asing. Rinciannya, sekitar 100 ribu bekerja di kapal niaga, 100 ribu di kapal pesiar, 50 ribu di kapal industri lepas pantai dan sisanya bekerja di kapal pencari ikan. Namun ABK yang tergabung dalam KPI tidak sampai 10 persen dari total jumlah pelaut.




Para pelaut tersebut menyumbang devisa sekitar Rp16 triliun per tahun. Data yang dirilis oleh The Baltic and International Maritime Council (Bimco), kebutuhan pelaut dunia masih tinggi.




Tahun 2015 misalnya, dunia pelayaran membutuhkan 1.523.440 pelaut, sementara jumlah yang bisa dipenuhi hanya 1.454.199 pelaut. Lima tahun kedepan, atau tahun 2020, dibutuhkan 1.5693.198 pelaut di dunia.




Di samping memenuhi kuantitas jumlah pelaut, pemerintah juga harus memperhatikan kompetensi dan kualitas ABK. Pelaut yang dihasilkan harus mencapai sesuai standard internasional, seperti yang ditetapkan International Maritime Organization (IMO) serta Standards of Training, Certifitation and Watchkeeping (STCW) Amandemen Manila 2010.




(Arry/Oryza/Mar)

Image

Index

Industri Pelayaran Kian Terpuruk

Dihantam Krisis Ekonomi Global

10 ABK Indonesia Akhirnya Dibebaskan Abu Sayyaf

5 Pekan Ditawan di Filipina

Pelaut Demo Damai di Depan Istana

Tuntut Standarisasi Gaji Sesuai ILO

10 ABK Indonesia Akan Ditebus

Abu Sayyaf ancam akan bunuh sandera

Kapal Malaysia Dibajak 3 ABK Indonesia Dilepas

Di Pulau Ligitan

Indonesia Ekspor Kapal Perang Ke Filipina

Buatan PT PAL, Diluncurkan Di Surabaya

KM Marina Karam, 70 Penumpang Hilang

Di Teluk Bone Sulawesi Selatan

SertifikasiI KM Komponen Kapal

Pemerintah Bantu Fasilitas Pembiayaan

Hanya 3 Kapal Tol Laut Diluncurkan

Pelni Gagal Dapat Kucuran PMN

Pelaut Indonesia Diminati Dunia

Etos Kerja Lebih Unggul tapi jumlah yang dihasilkan masih kurang

Poll

Subscribe Newsletter