NEWS - Indonesia Maritime News (IMN)

TERDAFTAR: IDM000087670
DEPARTEMEN HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA
DIREKTUR JENDERAL HAK KEKAYAAN INTELEKTUAL

Image

Index

Votalitas Logistik Indonesia

Diklaim Tertinggi di ASEAN

Kembangkan Pelabuhan Belawan

Kemenhub Gelontorkan Rp683 Miliar

Seminar STMT Trisakti " Penguatan Transportasi Hadapi AEC"

SDM dan Inovasi kunci memenangkan persaingan

Jalur KA Besitang-Binjai Sumut Diaktifkan Lagi

Peninggalan Belanda Sepanjang 80 Km

Garuda & Lion Air Nyaris Tabrakan

Di Langit Bali

IPC Tetap Stabil dan Menguntungkan

Meningkatkan pelayanan & perpanjangan JICT upaya dukung koneksitas maritim

IPC Kucurkan Rp 2 Triliun

Dukung Car Terminal menjadi yang terbesar & modern di dunia

Obligasi Global IPC Capai US$ 1,6 Milyar

Bukti kemandirian & kesungguhan korporasi kembangkan logistik nasional

IPC Kembangkan Transportasi Laut

Dukung Program Tol Laut Presiden, tekan kemacetan,efisiensi dan lancarkan Logistik

Strategi IPC Menghadapi MEA

Upaya tingkatkan daya saing produk Indonesia di tingkat global

Poll

Subscribe Newsletter

Obligasi Global IPC Capai US$ 1,6 Milyar
Bukti kemandirian & kesungguhan korporasi kembangkan logistik nasional

Indonesiamaritimenews.com (IMN): KEBERHASILAN PT Pelabuhan Indonesia II (Persero) atau Indonesia Port Corporation (IPC) menerbitkan Obligasi Global senilai US$ 1,6 milyar pada awal Mei 2015 mengundang apresiasi tinggi.

IPC membuktikan kemampuannya secara professional memperoleh akses ke pasar modal internasional. Keberhasilan itu merupakan pengakuan para investor secara de facto atas keberhasilan pimpinan dan seluruh awak di dalam pengelolaan kebijakan korporasi. Perusahaan plat merah ini berhasil meyakinkan para investor bahwa IPC perusahaan prospek prekonomian masa depan.

Keberhasilan perusahaan menerbitkan Obligasi Global dengan nilai signifikan , menunjukan IPC mampu menampilkan profile korporasi sebagai perusahaan yang sehat dan profit sehingga menjadi benchmark (tolok ukur) bagi investor asing maupun pasar modal asing untuk berinvestasi.

Penerbitan obligasi global atau global bond menunjukan korporasi berhasil meningkatkan pandangan para investor asing menjadi semakin positif terhadap stabilitas makroekonomi Indonesia.

Keberhasilan IPC menerbitkan Obligasi Global, sebagai gambaran kesungguhan korporasi ini dalam upaya membangun pelabuhan berkelas dunia dengan biaya sendiri, demi melancarkan logistik nasional.

MELEBIHI TARGET
Pada penerbitan Obligasi Global (Global Bond) itu, IPC berhasil menarik dana investor dari beberapa negara besar senilai US$ 1,6 miliar atau setara dengan Rp.20,8 triliun.

Nilai tersebut telah melebihi target awal obligasi global IPC sebesar US$ 1 miliar dengan penawaran dari investor mencapai US$ 5 miliar. Penerbitan obligasi yang ditawarkan kelebihan permintaan (oversubscribed).

Keberhasilan IPC itu bukanlah seperti membalikan telapak tangan, namun penuh perjuangan untuk meyakin para investor. Perusahaan ini sebelum menerbitkan obligasi global, melakukan pertemuan beberapa kali dengan investor (roadshow) di beberapa negara.

Pertemuan dengan investor dilakukan seperti di Hongkong ,Singapura, London, New York, Boston dan Los Angles dengan menawarkan obligasi valas senilai US$ 1 miliar.

IPC menunjuk tiga bank diantaranya ANZ, BNP Paribas dan Citigroup untuk memuluskan penerbitan obligasi global. Selain itu, korporasi juga menunjukan dua sekuritas lokal PT Bahana Securities dan PT Danareksa Sekuritas yang bertindak sebagai joint Bookrunners dan joint lead managers untuk menangani transaksi.

PERINGKAT
Sebelum melakukan roadshow dan melepas obligasi global di pasar modal asing, IPC melalui berbagai tahap, seperti proses rating . Hal ini dilakan untuk mendapatkan peringkat kredit korporasi.

Hasil audit dalam proses rating, IPC mendapatkan hasil yang menggembirakan. Diantaranya Baa3 (Stabil) oleh Moody, BB + (Stabil ) oleh Standard & Poor, dan BBB -(Stabil ) oleh Fitch, setara dengan peringkat Negara Republik Indonesia.

"Peringkat tersebut menunjukan kekuatan dan keuntungan IPC sebagai salah satu pengelola pelabuhan tersibuk di Indonesia serta memperlihatkan kemampuan perusahaan dalam menghasilkan keuntungan yang stabil dan rasio kecukupan arus kas perusahaan yang memadai," jelas Direktur Utama IPC RJ. Lino.

SENTIMEN POSITIF
Penerbitan obligasi global IPC dikatakan berhasil dilakukan pada saat kondisi ekonomi Indonesia menurun, namun transaksi berjalan dengan sentimen positif.

Pada hal Ketua Umum Hipmi Bahlil Lahadalia yang disadur Sindonews.com, tentang kondisi ekonomi Indonesia saat ini mengungkapkan,pengusaha yang tergabung dalam Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) mengaku terpukul dengan perlambatan pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal I/2015. Pasalnya, ekonomi RI yang hanya tumbuh 4,7% berdampak dan menambah beban pengusaha Indonesia.

Namun IPC tetap optimis, berjalan mandiri dan terus menggeliat merangkul investor asing.Ujungnya, korporasi berhasil menggaet investor dengan bunga rendah. Kerberhasilan ini menjadi cataan fenomenal.

Orias P Moedak , Direktur Keuangan IPC mengatakan, "Untuk pertama kalinya dalam sejarah penerbitan Global Bonds yang dilakukan BUMN, IPC berhasil mencatat sejarah penawaran dengan bunga terendah hanya 50 basis points diatas yield obligasi pemerintah dengan penawaran perdana terbesar. Hal ini menunjukkan kepercayaan yang tinggi dari pasar global terhadap perusahaan kami," paparnya.

"Disaat pertumbuhan ekonomi di Indonesia menurun," lanjut Orias P Moedak menggaris bawahi,"Transaksi ini merupakan bukti sentimen positif investor terhadap Indonesia dan dukungan penuh untuk sektor-sektor prioritas negara, terutama untuk pengembangan infrastruktur dan investasi jangka panjang yang dipandang strategis," ungkapnya.

MINAT INVESTOR TINGGI
Investor asing terlihat antusias terhadap obligasi global yang dikeluarkan IPC. Minat Investor tinggi terlihat dari total Global Bond sebesar US$ 1.6 miliar yang didapatkan IPC yang dibagi dalam dua seri.

Seri pertama penerbitan Global Bond bernilai US$ 1,1 miliar dengan jangka waktu 10 tahun dengan bunga (coupon) 4,25% dan yield 4,375%. Seri kedua bernilai US$ 500 juta dengan jangka waktu 30 tahun dengan bunga (coupon) 5,375% dan yield 5,5%.

IPC bangga telah berhasil menyelesaikan proses ini, lanjut Lino, sehingga IPC berada di pasar obligasi internasional melalui transaksi yang menetapkan standar baru investasi di perusahaan milik Negara."Kami dituntut lebih professional dan handal dalam mengelola Perusahaan untuk menjaga kepercayaan investor terhadap Indonesia, khususnya kepada IPC."

Lino melihat, "Tingginya minat investor ini menunjukkan adanya kepercayaan terhadap proyek-proyek pembangunan yang sedang dan akan dijalankan oleh IPC,"tegasnya.

MANDIRI MEMBANGUN PELABUHAN
Dana hasil obligasi global, selanjutnya akan digunakan IPC membiayai proyek yang sedang dijalankan dan yang sudah direncanakan perusahaan. Seperti : Pembangunan terminal NewPriok, pengembangan pelabuhan di Sumatera Selatan, Kalimantan Barat dan Sorong Papua Barat serta untuk mendukung pembangunan lainnya.

Upaya IPC mencari dana melalui obligasi global adalah bentuk kemandirian korporasi dalam menjalankan usahanya sebagai operator pelabuhan terbesar di Indonesia.

Lino menjelaskan, pembiayaan NewPriok tidak memberatkan dan melibatkan pemerintah,"IPC sendiri yang akan membiayai ," jelasnya pada suatu pertemuan.

Pada proyek NewPriok, Pelindo II menanamkan investasi hingga Rp 22,66 triliun (US$ 2,47 miliar) untuk pembangunan NewPriok tahap I dari total US$ 4 miliar untuk keseluruh terminal di fase 1 dan 2.

NewPriok tahap I terdiri dari 3 terminal peti kemas dan 2 terminal yang dibangun di atas lahan 195 hektar. Pelabuhan tersebut dirancang dengan draf hingga -20 meter at low water spring (kedalam 20 meter) dengan mengerukan tahap pertama -16 m LWS.

Alur pancang dirancang dua arah selebar 300 meter dan dermaga sepanjang 4000 meter sehingga kapal berkapasitas 18.000 TEUs bisa berlabuh.

IPC merancang pembangunan NewPriok dalam dua tahap. Tahap pertama akan rampung 2015 yang akan menambah kapasitas Tanjung Priok menjadi 4,5juta TEUs.

Sedangkan dalam tahap berikutnya, NewPriok akan menambah lagi kapasitasnya sebesar 8juta TEUs, sehingga total menjadi hampir 20 juta TEUs setelah pembangunannya rampung total.

LANCARKAN LOGISTIK
Dirut IPC RJ. Lino berpendapat," Menekan ongkos logistik adalah dengan meningkatkan produktivitas." Pembangunan NewPriok membuat pelabuhan lebih maksimal melakukan peningkatan produktivitas.

Artinya, "Kapal yang membawa 50.000 DWT membuat ongkos logistik lebih murah dan lebih lancar karena membawa muatan lebih banyak."Jelas Saptono R Irianto Direktur Komersial dan Pembangan Usaha IPC.

Dengan demikian, pelabuhan sebagai mata rantai proses logistik yang berperan besar sebagai kasalitator harga menjadi bagian penting untuk melancarkan arus barang dari hulu hingga hilir dan sebagai simpul transportasi .Pelabuhan mempunyai andil besar menurunkan ongkos logistik dan menjadi instrument kegiatan perdagangan dan peningkatan industri menggelitik geliat ekonomi negeri.

IPC
PT. Pelabuhan Indonesia II (Persero) atau IPC sebagai operator pelabuhan terbesar di Indonesia mempunyai misi untuk selalu memberikan layanan kelas dunia kepada para pengguna jasanya. IPC memiliki 12 (dua belas) cabang pelabuhan yang tersebar di wilayah bagian barat Indonesia, yakni Pelabuhan Tanjung Priok, Sunda Kelapa, Palembang, Pontianak, Teluk Bayur, Banten, Bengkulu, Panjang, Cirebon, Jambi, Pangkal Balam dan Tanjung Pandan.

Selain itu, IPC memiliki 16 (enam belas) anak perusahaan yang terdiri atas PT. Pelabuhan Tanjung Priok, PT. Jakarta International Container Terminal, PT. Pengembang Pelabuhan Indonesia, PT. Indonesia Kendaraan Terminal, PT. Energi Pelabuhan Indonesia, PT. Integrasi Logistik Cipta Solusi, PT. Jasa Peralatan Pelabuhan Indonesia, PT. Pengerukan Indonesia, PT. Electronic Data Interchange Indonesia, PT. Terminal Petikemas Indonesia, PT. Pendidikan Maritim dan Logistik Indonesia, PT. IPC Terminal Petikemas, PT. Rumah Sakit Pelabuhan, PT. Multi Terminal Indonesia, PT. Jasa Armada Indonesia, serta KSO TPK Koja.

Penerbitan Global Bond, menurut Lino, merupakan salah satu langkah besar yang dilakukan IPC untuk mewujudkan berbagai program pembangunan infrastruktur yang dapat mendorong pengembangan sistem logistik nasional di Indonesia.

Namun IPC tak bisa berjalan sendiri , korporasi membutuhkan, "Dukungan penuh pemerintah terhadap keberlangsungan pengembangan serta pembangunan proyek yang telah dan akan dilaksanakan agar berjalan tanpa hambatan," harap Lino.

Sejak awal pembangunan NewPriok, IPC terus melakukan presentasi tentang pembangunan terminal ini keberbagai pihak. Langkah gemilang pertama yang dilakukan korporasi , berhasil menyelesaikan segala perizinan dan administrasi pembangunan NewPriok dalam waktu singkat.

IPC bisa menembus lingkaran birokrasi dengan cepat sehingga pembangunan NewPriok dapat berjalan sesui progress. "Banyak orang yang tak percaya,"kata Lino tentang keberhasilan perusahaan yang dipimpinnya menyelesaikan persyaratan pembangunan NewPriok pada saat itu.

Kerberhasilan IPC membangunan, menjalankan roda perusahaan dan menarik investor asing , menjadi pertimbangan menarik. Investor dalam negeri pun seharusnya memiliki minat investasi di IPC melebihi minat investor asing. Ajakan kepada investor dalam negeri agar melakukan investasi di IPC berkali-kali didegungkan Lino. Setidaknya,keberhasilan korporasi menerbitkan obligasi global dengan hasil signifikan, menjadi pertimbangan dan bukti bagi investor dalam dan luar negeri, bahwa IPC adalah perusahaan profit dan berprosfek ekonomi.

Agaknya semua praktisi dan insan maritime patut merenungkan, apa yang dicanangkan dan menjadi semboyan IPC. "Mari tumbuh bersama kami. Ini bukan soal bisa atau tidak bisa. Ini soal mau atau tidak mau. Kami mau karena kami bisa mewujudkan yang menjadi impian Indonesia." (M.Arifin Mukendar)